Friday, February 17, 2012

Sisi Aku dan Dia

Terasa ringan jari ingin mencoretkan apa yang bermain di akal waras.
Terasa kerdil diri berdiri di bumi Sang Pencipta.
Kembali bermain di minda, 
"Apa sudah cukupkah amalan itu?"
"Apa sudah kuatkan pertahanan diri?"
"Apa sudah menanti jalan lurus menjemput di hadapan?"
"Apa mungkin ada rahsia yang masih belum diungkap oleh Sang Pencipta?"
Dewasa menyusuri langkah-langkah penuh berliku.
Penuh tunduk dan patuh menghalakan tiap tapak menuju kemudian hari.
Berlegar lagi di minda ini,
"Belum cukupkah apa yang diberi?"
"Mengapa masih ada sisi sisi gelap menemani hari?"
"Mana janji yang telah diberi?"
"Mengemis diri, menangisi sisa hari, tertawakah si Adam melihat diri ini?"
Lalu, penuh istiqamah menasihati diri.
Sudah dijanji, pasti ada anak-anak Si Adam terkhilaf membawa diri.
Maka dituntut janji-janji:
"Untuk apa Aku memberi kiranya kau masih gah membangga diri?"
"Mana amalanmu tiap kali Aku dambakan?"
"Tidak pernah Aku mendengar suaramu melagui syahadahKu"
"Maka aku Sang Pencipta mu, tidak akan tunduk dan patuh di kelalaian mu"
Sudahnya aku, terus menerus menangisi diri.
Menadah kudus tangan meminta dan terus meminta.
Kekhilafan ini menikam terus darah yang mengalir laju tiap saluran.
Bersujud aku penuh rela, penuh rasa terhina.
Mengharap akan diampuni keterlanjuran ini.
Sang Pencipta, sujudku hanya untukMU.

Aminnn. 

No comments:

Post a Comment